Setelah seminggu berkutat dengan rutinitas dan kesibukan, manusia pasti membutuhkan hal bernama penyegaran (refreshing); baik itu dari kalangan pekerja kantoran, mahasiswa, ataupun pelajar. Pepohonan hijau dan sejuk adalah salah satu pilihan bagi mereka untuk melepas penat itu. Jika berbicara mengenai wilayah penuh pohon, maka Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Pancar adalah tempat yang tepat. Sebuah tujuan wisata berbasis lingkungan dengan tiket masuk yang relatif murah.

gunung pancar1Untuk para pecinta wisata di alam bebas, TWA Gunung Pancar pastinya sudah tak asing lagi di telinga mereka. Gunung berketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang terletak di di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat itu memang sedang terkenal di kalangan traveller; terutama para remaja ‘kekinian’.

Beberapa tahun belakangan, potensi wisata TWA Gunung Pancar memang sedang naik ‘pamor’nya. Banyak sekali orang yang memutuskan datang ke tempat itu hanya untuk sekadar melepas penat di akhir pekan, setelah satu minggu penuh bekerja. Bekasi, Cileungsi, dan beberapa daerah sekitar Jakarta dan Bogor adalah asal dari para pengunjung di sana. Bahkan, ada juga pengunjung yang datang dari mancanegara.

gunung pancar3Hal ini dikonfirmasi langsung oleh pihak pengelola swasta TWA Gunung Pancar, Bayu Anwar Permana. Dia mengungkapkan, dalam beberapa tahun ini, pengunjung taman wisata itu terus meningkat.

“Yang saya teliti sejak saya di sini tahun 2015 ke 2016 naiknya sampai 100%,” tambahnya.

Menurut salah satu pengunjung, Rokhidin, salah satu faktor yang membuat banyak orang datang ke sana adalah harga tiket masuk yang relatif murah.

Selain harga murah, Rokhidin juga menambahkan satu alasan lain mengapa para pengunjung tertarik datang ke gunung yang ada di ketinggian 800 mdpl itu.

“Ya karena tempatnya sejuk dan nyaman untuk orang-orang yang ingin berlibur apalagi ditengah-tengah pekerjaan yang berat,” ungkapnya.

Harus diakui, udara sejuk karena pepohonan yang ada di sekeliling area wisata, dan objek wisata yang beragam di tempat itu memang mampu menarik perhatian wisatawan; baik lokal maupun nonlokal.

Ditambah lagi, fasilitas yang sama lengkapnya. Seperti gedung pusat informasi, pondok kerja, aula, sarana olahraga, area kemah, tempat bermain anak, sarana pemandian, shelter, fasilitas penginapan dan juga ruang pertemuan. Semuanya tersedia di kawasan wisata ini.

Bersepeda di Jalur Gunung

Bersepeda di tengah hutan pinus yang sejuk dan hijau dalam TWA Gunung Pancar? Bagaimana rasanya?

gunung pancar4Komunitas Sepeda SAINT 7 (Sepeda Asik Internal Trans 7) sudah melakukannya. Kumpulan pekerja kantor yang berasal dari berbagai daerah itu, menempuh perjalanan dari Cibinong, Jawa Barat, sampai ke kawasan Gunung Pancar.

Taufik Siregar, salah satu anggota komunitas tersebut mengungkapkan alasan mengapa mereka memilih jalur bersepeda di gunung dibanding jalur sepeda di Ibukota.

“Ini buat melatih fisik dan mental aja sebenernya. Supaya kita terbiasa melewati medan kayak gini, jadi kalau kita bersepeda di kota yang jalurnya flat, gak akan capek.”

Pria itu juga menambahkan, bersepeda di TWA Gunung Pancar juga dapat ‘mencuci’ paru-parunya—mengingat jalurnya dikelilingi pepohonan yang mayoritasnya adalah tanaman pinus.

Perjalanan  yang ditempuh oleh para anggota SAINT 7 (dari Cibinong) memakan waktu sekitar 5 jam. Berangkat pukul 8, sampai pukul setengah 2.

Untuk kalian yang hobi bersepeda, tidak ada salahnya mencoba melakukan hobi itu di Gunung Pancar; seperti yang dilakukan Komunitas SAINT 7.

Makam di Puncak Gunung

Selain bersepeda, ada juga objek wisata makam yang bisa dikunjungi. Di kawasan TWA Gunung Pancar, ada 8 makam jika dihitung secara keseluruhan. Makam-makam tersebut terletak di 2 tempat yang berbeda; 6 makam di Puncak Gunung Pancar, dan 2 makam di Puncak Gunung Astana, yang bersebrangan dengan Gunung Pancar.

Bagi yang ingin berkunjung ke makam, sebaiknya jangan menggunakan sepatu yang licin. Ada baiknya untuk memakai sepatu atau sandal gunung, agar tidak terpleset ataupun terjatuh. Satu lagi, sebelum pergi atas (makam), ada sebuah warung—di sana terdapat kotak amal yang biayanya digunakan untuk perawatan makam; pengunjung diperbolehkan menyumbang seikhlasnya.

gunung pancar5Penjaga makam yang berada di Puncak Gunung Astana, Acim, mengatakan kalau jumlah pengunjung yang datang ke makam termasuk banyak.

“Iya alhamdulillah banyak, sekadar berkunjung atau untuk ziarah,” jelasnya.

Meskipun letaknya ada di kawasan TWA Gunung Pancar, wisata makam ini dikelola sendiri oleh warga sekitar kawasan tempat wisata, sama dengan pemandian air panas.

Di Puncak Gunung Astana, ada makam Syekh Ali Basha dan Mbah Uyut Astana. Menurut Acim, keduanya merupakan wali yang di zaman dahulu bertugas menyebarkan agama islam di sekitar Gunung Pancar dan Astana.

Sementara di Puncak Gunung Pancar, ada 6 makam; yang meliputi makam Mbah Bulung Tunggal, Mbah Hj. Putih, Raden Panji Rangga Wulung, Raden Surya Kencana, Prabu Kian Santang, dan Nyi Mas Bungsu.

Acim menjelaskan kalau makam-makam tersebut sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum dirinya lahir. “Itu (makam) udah lama banget, kita juga gak tahu ada jasadnya atau gak. Cuma sebagai bentuk penghormatan aja (makamnya).”

Perjalanan ke Puncak Gunung Pancar memakan waktu kurang lebih 4 jam, dengan jalanan menanjak dan agak terjal. Sementara, untuk sampai ke Puncak Gunung Astana (700 mdpl) hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Pemandangan yang disajikan di Puncak Gunung Astana begitu indah. Dari sana, terlihat Puncak Gunung Pancar yang menjulang. Di sekeliling makam yang dilindungi bangunan kecil, terdapat kebun milik warga sekitar; mayoritas adalah tumbuhan singkong.

Mitos-mitos Makam

Masyarakat Indonesia tentu masih sering mendengar tentang mitos-mitos suatu tempat di negara ini. Pun begitu juga dengan kawasan Gunung Pancar ini, terutama di area makamnya.

Di internet, banyak beredar mitos-mitos soal kedatangan pengunjung yang datang ke makam untuk mencari wangsit, juga tentang benda-benda pustaka, seperti keris, yang konon katanya ada di antara makam-makam itu. Bahkan ada sumber yang menyatakan jika di malam-malam tertentu, keris itu akan memancarkan cahaya.

Padahal, menurut Acim, itu tergantung kepada kepercayaan masing-masing orang.

“Letak kerisnya itu sendiri tidak ada yang tahu dimana. Semua tergantung diri kita, ya kalau kitanya ‘bagus’ ya bisa melihat, kalau tidak ‘bagus’ ya tidak bisa melihat keris itu.”(tan)